Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Senin, 25 Juli 2011

Pemenang Dalam Diri

Sore hari di tengah telaga, ada dua orang yang sedang memancing. Mereka adalah ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka disana. Dengan perahu kecil, mereka sibuk mengatur pancing dan umpan.  Air telaga bergoyang perlahan dan membentuk riak-riak kecil di air. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.

“Ayah.”
“Hmm..ya..” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.  “Tadi malam ini,aku bermimpi aneh.  Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang sedang berkelahi. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk  mencakar dan menggeram, saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.” ucap sang anak.

Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu, mulai melanjutkan cerita, “singa yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku.”

Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir haluan.”Tapi, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun kotor, dan bulu yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.”

“Aku bingung, maksud dari mimpi ini apa?. Lalu, singa yang mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka sama-sama kuat?”

Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda di depannya. Sambil tersenyum, ayah berkata, “pemenangnya adalah, yang paling sering kamu beri makan.”

Ayah kembali tersenyum, dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan kuat, di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.

=========

Sahabatku tercinta,  setiap diri kita memiliki “singa” saling bertolak belakang. Masing-masing ingin menjadi pemenang, dengan menjatuhkan salah satunya. Singa-singa itu adalah gambaran dari sifat yang kita miliki. Kebaikan dan keburukan. Dua sifat ini sama-sama memiliki peluang untuk menjadi pemenang dan kita pun dapat mengambil sikap untuk memenangkan salah satunya. Semua tergantung dengan singa mana yang sering kita beri makan.

Salah satu santapan dari singa yang buruk adalah sinetron. Sinetron memiliki naskah yang  dangkal, emosional berlebihan, pendidik yang baik dalam hal kekerasan, kelicikan, alur cerita yang dipanjang-panjangkan, yang makin hari makin tidak berkualitas. Sinetron yang baik bisa dihitung dengan jari.

Belum lagi, kita juga disuguhkan oleh tayangan gosip, yang membuka-buka aib orang lain. Juga tayangan yang mempertontonkan keburukan dan kekerasan.

Ingat, keburukan yang koar-koarkan akan menghasilkan keburukan yang serupa.

Sahabat,

“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Ilaah (sembahan) manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

Al Qur’an Surat An-Nas.

Setiap dari kita merindukan tayangan yang berkualitas, yang menengok pribadi-pribadi yang tangguh dalam berjuang tuk mencapai prestasi. Tayangan yang santun, tayangan yang mengajak untuk  lebih dekat dengan Tuhannya.

Apa yang kita baca dan apa yang kita lihat, adalah makanan bagi pikiran kita. Apa yang terpikirkan, itulah yang akan tersikap.

diambil dari www.resensi.net

Minggu, 17 Juli 2011

semangatlah belajar seperti kakek umur 100 tahun ini

Pada tanggal 3 Agustus 2011 nanti usia Leo Plass akan mencapai 100 tahun. Namun hadiahnya sudah ia dapatkan pada 11 Juni kemarin. Tak tanggung-tanggung hadiah itu ia buat sendiri dan dunia menyukainya. Hal ini karena ia mencatatkan rekor dunia sebagai orang tertua yang berhasil meraih gelar sarjana pada usia 99 tahun lebih 10 bulan, atau dua bulan menjelang hari ulang tahunnya.

Plass sebenarnya dulu sudah kuliah di Eastern Oregon University sejak tahun 1930. Saat itu universitas ini masih bernama Eastern Oregon Normal School dan ia mengambil jurusan pendidikan dengan harapan setelah lulus akan jadi guru.

Sambil kuliah ia mengajar private anak-anak SMA di kotanya untuk membayar uang kuliahnya. Dari hasil ini ia bisa menabung. Namun keadaan ekonominya mulai memburuk ketika terjadi "depresi ekonomi" di Amerika. Orangtuanya sendiri harus menutup perkebunannya sedangkan bank tempatnya menabung juga bangkrut. Plass sampai kehilangan tabungannya sebesar 400 dolar AS, nilai yang besar untuk ukuran saat itu!

Di tengah kesulitan itu, ia mendapat pekerjaan menarik. Seorang temannya menawarkan pekerjaan di logging company, perusahaan penebangan kayu dengan upah dua kali lipat. Dengan mengajar private ia mendapat pemasukan US$ 80 sebulan sedangkan dari di perusahaan ini ia ditawari US$ 150 sebulan. Kesempatan ini tak ia sia-siakan meski harus meninggalkan bangku kuliah. Padahal saat itu ia tinggal setahun lagi untuk lulus.

Mendapatkan uang berlimpah dari pekerjaannya membuat ia lupa untuk melanjutkan kuliahnya. Lalu 79 tahun kemudian, atas desakan kemenakannya, Plass melanjutkan kuliah lagi. Ini pada awalnya sulit dilakukan. Namun setelah melakukan penelitian, pihak universitas bisa menemukan karya tulis Plass, yang merupakan prasyarat untuk bisa melanjutkan kuliah guna meraih gelar sarjana.


Maka di usia hampir 100 tahun Plass pun kembali ke kampus. Ketika pertama kali kuliah ia diajak jalan-jalan keliling kampus. "Ya, ampun, semuanya sudah berubah," katanya. Dan melalui ketekunannya maka Leo Plass berhasil meraih gelar sarjananya. "Saya cuma membutuhkan waktu 79 tahun untuk menyelesaikan kuliah," katanya. Plass membuktikan bahwa belajar tak ada akhirnya. Luar biasa!!


BELAJAR DAN BELAJAR LAGI

Ada pepatah, learning is never ending adventure. Belajar adalah petualangan yang tiada akhir. Tak ada batasan usia untuk belajar. Kita layak belajar sepanjang hidup kita.

Beberapa waktu lalu saya membaca ada kakek yang baru lulus S1 pada saat usianya menginjak 90-an tahun. Bahkan bulan Juni kemarin seorang kakek bernama Leo Plass baru lulus S1 dari Eastern Oregon University, Amerika Serikat, pada saat usianya menginjak 99 tahun lebih 10 bulan, atau hanya dua bulan menjelang ulang tahunnya yang ke-100. Sungguh luar biasa semangat belajarnya. Sang kakek tentu begitu enjoy dengan proses belajarnya, tanpa paksaan, tanpa ambisi mengejar pekerjaan atau posisi tertentu dalam profesinya. Ia belajar karena ingin belajar. Karena itu, jika sang kakek saja masih semangat belajar, seharusnya kita yang masih muda harus lebih bersemangat lagi.

Belajar bisa dilakukan di mana saja. Menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi hanyalah salah satu jalur pelajaran yang bisa ditempuh. Setelah lulus seseorang akan menjalani pembelajaran sebenarnya dari kehidupan yang dijalani. Pada saat ini hampir tak ada lagi bimbingan dari dosen atau guru. Sukses hidupnya ditentukan oleh upayanya sendiri.

Kadang nilai yang diperoleh akan menentukan nasib baiknya. Tak sedikit juga yang mengalami kejadian sebaliknya. Meskipun nilai pendidikan di universitasnya bagus, namun gagal dalam kehidupannya. Mungkin ia belajar baik di universitasnya, akan tetapi kurang belajar mengenai kehidupan.

Di sisi lain, ada orang yang gagal dalam pendidikan formalnya, tetapi sukses dalam kehidupannya. Kuncinya karena ia mau belajar dari segala hal, dari kehidupan, dari orang lain, dari alam, dari kegagalannya sendiri, dan dari hal-hal lainnya yang ditemui. Minimal ia belajar dari buku-buku yang dibacanya.

Karena itu, meski kita sudah lulus dari pendidikan formal dengan nilai yang luar biasa, belajar harus tetap dilakukan. Belajar dari buku, dari kehidupan, dari fenomena yang ada, bahkan ilmunya pun masih terus diasah, di-up-date, agar selalu aktual.

Satu hal yang perlu kita sama-sama ingat, setiap orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika kita lebih di satu sisi, kita mungkin kurang di sisi lain sehingga perlu banyak belajar pada mereka yang memiliki kelebihan di bidang itu.

Karena itu, tak sepantasnya kita menyombongkan diri jika menguasai satu hal. Lebih baik jadi manusia yang fleksibel, rendah hati, mau menerima kelebihan orang lain, serta menyadari kekurangan dan kelebihannya. Dengan demikian, jika bertemu dengan orang yang lebih hebat, kita tidak akan rendah diri. Begitu pun saat kita bertemu orang yang kurang beruntung dibanding kita, tak akan menyombongkan diri. Pada intinya, kerendahan hati akan membuat kita lebih mawas diri.

Salam sukses luar biasa!